AKU CINTA ISLAM
AKU CINTA ISLAM

Sebuah Kebenaran dan bagaimana cara kita menyikapi hidup yang sebenarnya.


You are not connected. Please login or register

Shalat Sunnah (Rawatib & Witir) & Penutup Artikel Tuntunan Salat

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

Hipotesa


Administrator Website
Administrator Website
Disunnahkan pula bagi setiap muslim, baik laki-laki atau perempuan melakukan sholat sunnah 2 raka`at sebelum shalat Subuh, 2 raka`at sebelum sholat Zhuhur dan 2 raka`at sesudahnya, 2 raka`at sesudah shalat Maghrib, dan 2 raka`at sesudah Isya. Jumlah kesemuanya 12 raka`at, yang dinamakan shalat rawatib; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selalu menjaganya di waktu muqim, adapun di waktu bepergian beliau hanya melakukan shalat sunnat Subuh dan witir. Untuk kedua shalat sunnah tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkannya baik di waktu muqim maupun di waktu bepergian. Beliau adalah teladan bagi kita, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik”. (Al-Ahzab: 21).

Dan lebih utama (afdhal) shalat-shalat rawatib dan shalat witir dilakukan di rumah, namun jika dilakukan di masjid, maka tidak apa-apa sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Sebaik-baik shalat seseorang adalah di rumah, kecuali shalat wajib.” (Hadits ini disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim)
Menjaga shalat rawatib dengan sungguh-sungguh merupakan bagian dari sebab seseorang masuk Surga, sebagaimana yang diriwayatkan di dalam Shahih Muslim dari Ummi Habibah radhiyallahu ‘anhu sesungguh-nya dia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Tiada seorang hamba muslim pun yang selalu melakukan shalat sunnat 12 raka`at selain dari shalat wajib pada setiap hari, melainkan Allah bangun untuknya sebuah istana di Surga.”

Dan sesungguhnya Imam At-Tirmidzi di dalam riwayat haditsnya juga menjelaskan (menafsirkan) hadits di atas sebagaimana yang kami sebutkan tadi.
Jika ia melakukan 4 raka`at sebelum shalat Ashar, 2 raka`at sebelum Maghrib, dan dua raka`at sebelum shalat Isya`, maka itu lebih baik sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Allah akan memberi rahmat kepada seseorang yang selalu shalat 4 raka`at sebelum Ashar“. (HR. Imam Ahmad, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan ia menghasankannya; dishahihkan Ibnu Huzaimah, sanad hadits tersebut shahih).

Dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“ Di antara dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalatnya, di antara dua adzan ada shalatnya, -Lalu beliau bersabda untuk ketiga kalinya: Bagi yang menghendaki.” (HR. Al-Bukhari)

Dan jika shalat 4 raka`at setelah shalat Zhuhur dan 4 raka`at sebelumnya, maka itu pun baik pula, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
“Barangsiapa yang menjaga 4 raka`at sebelum Zhuhur dan 4 raka`at sesudahnya, maka ia diharamkan oleh Allah atas api Neraka.” (HR. Ahmad dan Ahlus Sunan dengan sanad shahih dari Ummi Habi-bah radhiyallahu ‘anhu)

Maksudnya adalah, ia menambah 2 raka`at atas shalat sunnat rawatib sesudah Zhuhur, karena shalat sunnat rawatib Zhuhur itu 4 raka`at (dua kali salam) sebelumnya dan 2 raka`at sesudahnya. Maka jika ia melakukan dua rak`at shalat sunnat lagi sesudahnya, tercapailah apa yang disebutkan di dalam hadits Ummi Habibah tersebut.
Dan Allahlah Pemberi taufiq, dan semoga Allah tetap mencurahkan shalawat dan salam kepada nabi kita Nabi Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kepada ke-luarga dan para shahabatnya serta para pengikutnya hingga hari Kiamat.

Shalat Sunnah Rowatib
Shalat sunah rawatib adalah shalat yang mengiringi solat wajib lima waktu dalam sehari yang bisa dikerjakan pada saat sebelum sholat dan setelah solat. Fungsi salat sunat rawatib adalah menambah serta menyempurnakan kekurangan dari shalat wajib.
Sesungguhnya di balik disyariatkannya Shalat sunnah terdapat hikmah-hikmah yang agung dan rahasia yang sangat banyak, di antaranya untuk menambah kebajikan dan meninggikan derajat seseorang. Shalat sunah juga berfungsi sebagai penutup segala kekurangan dalam pelaksanaan Shalat fardu. Shalat sunah juga mempunyai keutamaan yang agung, kedudukan yang tinggi yang tidak terdapat pada ibadah-ibadah lainnya, serta hikmah-hikmah yang lain.
Dari Rabi'ah bin Ka'b al-Aslami, pelayan Rasulullah saw, berkata, "Aku pernah menginap bersama Rasulullah saw, kemudian aku membawakan air wudu untuk beliau serta kebutuhannya yang lain. Beliau bersabda, Mintalah kepadaku, maka aku katakan kepada beliau, 'Aku minta agar bisa bersamamu di Surga', beliau bersabda, 'Ataukah permintaan yang lain?' Aku katakan, 'Itu saja'. Beliau bersabda, 'Kalau begitu, bantulah aku atas dirimu dengan banyak bersujud (Shalat)'." (HR Muslim).
Dari Abu Hurairah ra , ia berkata, "Rasulullah saw bersabda, 'Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali di hisab (diperhitungkan) pada hari Kiamat nanti adalah Shalatnya, apabila Shalatnya baik, maka sungguh dia telah beruntung dan selamat, dan jika Shalatnya rusak, maka dia akan kecewa dan merugi. Apabila Shalat fardunya kurang sempurna, maka Allah berfirman, 'Apakah hamba-Ku ini mempunyai Shalat sunnah? Maka tutuplah kekurangan Shalat fardu itu dengan Shalat sunnahnya.' Kemudian, begitu pula dengan amalan-amalan lainnya yang kurang'." (HR Abu Daud, Tirmizi, dan lainnya, hadis sahih).

Pembagian Shalat-Shalat Sunnah
Shalat sunnah terbagi menjadi dua, yaitu Shalat sunnah mutlak dan Shalat sunnah muqayyad. Shalat sunnah mutlak itu dilakukan hanya dengan niat Shalat sunnah saja tanpa dikaitkan dengan yang lain. Adapun Shalat sunnah muqayyad, di antaranya ada yang disyariatkan sebagai penyerta Shalat fardu, yaitu yang biasa disebut dengan Shalat sunnah rawatib: mencakup Shalat sunnah Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Ada juga Shalat Dhuha, Shalat 'Idain, Shalat Kusuf dan Khusuf, Shalat Hajah, Shalat Istikharah, dan Shalat-Shalat sunnah yang lain.

Keutamaan Shalat Sunnah Rawatib
Dari Ummu Habibah ra, ia berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Tidaklah seorang hamba muslim melaksanakan Shalat sunnah (bukan fardhu) karena Allah, sebanyak dua belas rakaat setiap harinya, kecuali Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya di Surga'." (HR Muslim).

Penjelasan tentang Sunnah Rawatib
Dari Ummu Habibah ra, ia berkata, "Aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Barangsiapa Shalat dalam sehari semalam dua belas rakaat, akan dibangun untuknya rumah di Surga, yaitu empat rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah Isya dan dua rakaat sebelum Shalat Subuh'." (HR Tirmidzi, ia mengatakan, hadis ini hasan sahih).

Dari Ibnu Umar ra dia berkata, "Aku Shalat bersama Rasulullah saw dua rakaat sebelum Dzuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah Jum'at, dua rakaat sesudah Maghrib, dan dua rakaat sesudah Isya'." (Muttafaq 'alaih).
Dari Abdullah bin Mughaffal ra , ia berkata, "Bersabda Rasulullah saw, 'Di antara dua azan itu ada Shalat, di antara dua azan itu ada Shalat, di antara dua azan itu ada Shalat'. Kemudian, pada ucapannya yang ketiga beliau menambahkan: 'bagi yang mau'." (Muttafaq 'alaih).
Dari Ummu Habibah ra, ia berkata, "Rasulullah saw bersabda, 'Barangsiapa yang menjaga empat rakaat sebelum Dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah mengharamkannya dari api Neraka'." (HR Abu Daud dan Tirmidzi, ia mengatakan hadis ini hasan sahih).
Dari Ibnu Umar ra, bahwa Nabi saw bersabda, "Semoga Allah memberi rahmat bagi orang yang Shalat empat rakaat sebelum Ashar." (HR Abu Daud dan Tirmizi, ia mengatakan, hadis ini hasan).

Shalat Witir
Shalat-Shalat sunnah yang kita sebutkan di atas merupakan Shalat sunnah rawatib yang sangat ditekankan. Selain itu, ada juga Shalat sunnah mu'akkadah yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja, salah satunya adalah Shalat witir, yaitu Shalat sunnah yang wakatunya dari setelah Isya hingga menjelang Subuh.
Tata Cara dan Syarat Kondisi
1. Dikerjakan sendiri-sendiri tidak berjamaah
2. Mengambil tempat salat yang berbeda dengan tempat melakukan sholat wajib.
3. Shalat sunah rawatib dilakukan dua rokaat dengan satu salam.
4. Tidak didahului azan dan iqomah
Jenis Salat Sunat Rawatib
Shalat sunat qabliyah / qobliyah adalah sholat sunah yang dilaksanakan sebelum mengerjakan solat wajib.
Shalat sunah ba'diyah adalah sholat yang dikerjakan setelah melakukan shalat wajib.
Mungkin di atas terdapat sedikit banyak tentang pertentangan pendapat.. Konon kabarnya Islam akan terpecah menjadi 73 bagian.. dan saya mempercayai itu.. tapi para muslimin yang benar mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah (Hadits) adalah mendapat julukan Ahli Sunnah Wal Jama'ah, dan mereka adalah 1 golongan yang benar-benar di-Ridhoi Allah. Seperti ke-Empat Mazhab contohnya, mereka tidak menyalahkan Hadits, melainkan berbeda-beda pengartian Hadits dan Al-Quran. Namun mereka pun tetap berpedoman kepada Hadits dan Al-Quran. Mudah-mudahan meskipun tata cara ibadah yang kita lakukan sedikit berbeda, namun tidak menyalahkan aqidah hukum Al-Quran dan Hadits, maka kita tetaplah tergolong oleh golongan Al-Jama'ah. Aamiin.

Allah berfirman:
Al-Anbiya 92:
إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ
Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.

Al-Anbiya 93:
وَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ كُلٌّ إِلَيْنَا رَاجِعُونَ
Dan mereka telah memotong-motong urusan(agama) mereka di antara mereka. Kepada kamilah masing-masing golongan itu akan kembali.

Al-Anbiya 94:
فَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا كُفْرَانَ لِسَعْيِهِ وَإِنَّا لَهُ كَاتِبُونَ
Maka barang siapa yang mengerjakan amal saleh, sedang ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalannya itu untuknya.
WALLAHU A'LAM BISHAWAB.

PENUTUP
Semoga artikel salat/sholat yang saya buat berdasarkan perbedaan masing-masing pendapat para Ulama ini bisa menjawab sebagian besar pertanyaan kita tentang banyaknya perbedaan melakukan sholat dari masing-masing kita.
Ingat, Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk selalu berprasangka buruk (su'udzon) melainkan kita diajarkan untuk selalu berprasangka baik (Huznudzon). Jangan hanya sedikit perbedaan kita langsung menghukum orang tersebut dengan hal kecil yang kita ketahui bahwa hal tersebut SESAT atau SALAH seolah kitalah yang paling benar hidup didunia ini.
Bila ada perselisihan, maka kembalikan ke Al-Quran dan As-Sunnah (Hadits), dan bila sudah seperti itu masih pula muncul perselisihan, maka sesungguhnya kebenaran hanyalah milik Allah, dan tugas kita sebagai manusia hanya ingin menjadi yang terbaik dalam perhatian-Nya.
Sekali lagi, semoga apa yang sudah saya tulis/susun dengan kedua tangan ini (yang diciptakan oleh Allah Dzal Jalaali wal ikhroom ini), juga dengan banyaknya referensi/rujukan yang saya baca, bisa bermanfaat untuk para pembaca sekalian.
Mohon maaf bila ada salah kata, salah penulisan, mohon kritik dan saran atau bila ada sedikit bahasan, bisa langsung hubungi saya melalui email “juliant_mcknight@live.com”
Sesungguhnya kebenaran itu datang dari Allah,
dan kesalahan itu datang dari saya.
Ambil yang baik dan buanglah yang buruk.

Assalamualaikum warrah matullahi wabarakatuh(u)
***

http://akucintaislam.indonesianforum.net

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik