AKU CINTA ISLAM
AKU CINTA ISLAM

Sebuah Kebenaran dan bagaimana cara kita menyikapi hidup yang sebenarnya.


You are not connected. Please login or register

Tirakat dalam Islam

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

1 Tirakat dalam Islam on Mon Apr 18, 2011 10:47 pm

ecides


Assalamualaikum wr wb..
Mau nanya nih, pngin tau aja.. Tirakat itu boleh ga sih dalam islam?? itu aja. terimakasih :cheers:

2 Re: Tirakat dalam Islam on Mon Apr 18, 2011 11:15 pm

Hipotesa


Administrator Website
Administrator Website
ecides wrote:Assalamualaikum wr wb..
Mau nanya nih, pngin tau aja.. Tirakat itu boleh ga sih dalam islam?? itu aja. terimakasih :cheers:

Wa'alaikum salam warrahmatullahi wabarakatuhu..
Saudariku yang aku hormati, Contoh tirakatnya seperti apa?
Ingat lho, kita tidak boleh mengada-adakan sesuatu dalam urusan Agama (Ibadah), perkembangan teknologi itu ada, perkembangan ibadah tidak.. Selagi tidak menyalahkan Sunnah Rasulullah itu sah-sah aja, tapi jangan sampai melenceng dari sunnah,, Jadinya seolah-olah sunnah padahal Bid'ah..

http://akucintaislam.indonesianforum.net

3 Re: Tirakat dalam Islam on Tue Apr 19, 2011 1:14 am

ecides


Tirakat dalam artian mendekatkam diri kepada Allah SWT. Ada beberpa bntuk tirakat yang aku tau, sperti mutih, hanya makan makanan tertentu, ga boleh tidur, ga boleh keluar kamar, dll. masih banyak lagi. Makanya aku tanyain, bukanya Allah melarang kita menzolimi diri sendiri? bgaimana jika kita merasa trsiksa mnjalankannya??

4 Re: Tirakat dalam Islam on Tue Apr 19, 2011 9:55 am

Hipotesa


Administrator Website
Administrator Website
ecides wrote:Tirakat dalam artian mendekatkam diri kepada Allah SWT. Ada beberpa bntuk tirakat yang aku tau, sperti mutih, hanya makan makanan tertentu, ga boleh tidur, ga boleh keluar kamar, dll. masih banyak lagi. Makanya aku tanyain, bukanya Allah melarang kita menzolimi diri sendiri? bgaimana jika kita merasa trsiksa mnjalankannya??

Saudariku yang kuhormati, semoga keselamatan berserta berkat rahmat Allah selalu tercurah atasmu.
Mari kita kaji satu persatu tentang kegiatan seperti yang diatas: Puasa mutih, puasa dengan memakan makanan tertentu, tidak tidur dalam beberapa hari, ataupun tidak keluar kamar.

Mari kita bahas melalui hadits-hadits.
Dibawah ini adalah puasa-puasa sunnah yang ada tuntunannya dari Rasulullah shalallahu'alayhi wassalam.

1. Puasa enam hari di Bulan Syawwal
Dari Ayyub al Anshari radhiyallaHu `anHu, Rasulullah SAW. bersabda, "Barangsiapa berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti dengan berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka ia seperti berpuasa setahun" (HR. Muslim II/82, Abu Dawud no. 2416, at Tirmidzi no. 756 dan Ibnu Majah no.1716)

2. Puasa Hari `Arafah dan Hari `Asyura (hari kesepuluh bulan Muharram atau hari kesembilannya)
Dari Abu Qatadah radhiyallaHu `anHu, dia berkata, "Rasulullah pernah ditanya tentang puasa hari `Arafah, beliau menjawab, `Ia menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan yang akan datang'. Beliau juga ditanya tentang puasa hari `Asyura, beliau menjawab, `Ia menghapus dosa-dosa tahun lalu'" (HR. al Bukhari no. 1988, Muslim no. 1123 dan Abu Dawud no. 2424)

Dari Abu Ghathfan bin Tharif al Muri, ia berkata, "Aku mendengar Ibnu Abbas berkata, `Ketika Rasulullah berpuasa `Asyura dan beliau menganjurkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata, `Wahai Rasulullah, sesungguhnya ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani'. Kemudian beliau berkata, `Kalau begitu, pada tahun depan yang akan datang kita akan berpuasa pada hari kesembilan (tasu'a) insya Allah'. Ibnu Abbas berkata, `Akan tetapi belum sampai tahun depan, Rasulullah telan meninggal dunia'" (HR. Muslim no. 1134 dan Abu Dawud no. 2428)

3. Puasa di Bulan Muharram
Dari Abu Hurairah radhiyallaHu `anHu, Rasulullah SAW. bersabda, "Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, bulan Muharram dan sebaik-baiknya shalat setelah shalat fardhu adalah shalat malam" (HR. Muslim no. 1163, Abu Dawud no. 2412, an Nasai III/206 dan at Tirmidzi)

4. Puasa di Bulan Sya'ban
Dari Aisyah radhiyallaHu `anHa, dia berkata, "Aku tidak pernah melihat Rasulullah menyempurnakan puasa sebulan penuh kecuali bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa dalam suatu bulan lebih banyak daripada bulan Sya'ban" (HR. al Bukhari no. 1969, Muslim no. 1156 dan Abu Dawud no. 2417)

5. Puasa Senin dan Kamis
Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid radhiyallaHu `anHu, dia berkata, "Sesungguhnya Rasulullah selalu berpuasa pada Hari Senin dan Kamis, manakala beliau ditanya tentang hal tersebut, beliau menjawab, `Sesungguhnya amal-amal hamba dihadapkan pada hari Senin dan Kamis'" (HR. Abu Dawud no. 2419, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2127)

6. Puasa tiga hari dari setiap bulan Hijriyyah Dari `Abdullah bin `Amr radhiyallaHu `anHu, Rasulullah SAW. bersabda, "Puasalah tiga hari dari tiap bulan. Sesungguhnya amal kebaikkan itu ganjarannya sepuluh kali lipat, sehingga ia seperti puasa sepanjang masa" (HR. al Bukhari no. 1976, Muslim no. 1159, Abu Dawud no. 2410 dan an Nasai IV/211)

Dan disunnahkan untuk menjadikan tiga hari tersebut hari ketiga belas, empat belas dan lima belas. Berdasarkan riwayat Abu Dzar radhiyallaHu `anHu, Rasulullah Rasulullah SAW. bersabda, "Wahai Abu Dzar, jika engkau ingin berpuasa tiga hari dari suatu bulan, maka puasalah pada hari ketiga belas, empat belas dan lima belas" (HR. at Tirmidzi no. 758 dan an Nasai IV/222, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih al Jaami' ash Shaghiir no. 7871)

7. Puasa Nabi Dawud `alayHis sallam
Dari `Abdullah bin `Amr radhiyallaHu `anHu, Rasulullah SAW. bersabda, "Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Dawud, beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari" (HR. al Bukhari no. 1131, Muslim no. 1159, an Nasai III/214, Abu Dawud no. 2431 dan Ibnu Majah no. 1712)

8. Puasa pada hari kesembilan Bulan Dzul Hijjah
Diriwayatkan dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi ShallallaHu `alayHi wa sallam, dia berkata, "Rasulullah berpuasa pada hari kesembilan Dzul Hijjah, Hari `Asyura, tiga hari dari setiap bulan, Hari Senin pertama dari suatu bulan dan Hari Kamis" (HR. Abu Dawud no. 2420 dan an Nasai IV/220, dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 2129)

Puasa mutih tidak termasuk di dalamnya, begitupun halnya puasa hanya dengan memakan makanan tertentu, tidak ada tuntunannya.
Jadi janganlah dilakukan apalagi ditambah-tambah dengan kepercayaan akan menambah keharmonisan keluarga, kepintaran, kebahagiaan, kebathinan, dll.
Hiduplah dengan cara Islam bukan seperti adat istiadat dan perbuatan mengada-adakan ibadah baru dengan tanpa tuntunan Al-Quran dan Hadits, maka perbuatan mengada-ada tersebut biasa kita namakan "Bid'ah".

Apakah hadits tentang Bid'ah? Ada terdapat empat hadits shahih tentang Bid'ah yang saya ketahui.

1. 'Irbadl bin Sariyah ra. mengutarakan, Muhammad Rasulullah SAW. bersabda, "Berpeganglah kalian pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rosyidin (Abu Bakar, Umar bin Khotob, Ali bin Abi Tholib, dan Utsman bin Affan) yang terpimpin. Peganglah dia dengan gigi-gigi taringmu, dan jauhilah oleh kalian mengada-adakan urusan baru. Sebab sesungguhnya setiap bid'ah adalah sesat". (HR. Empat Ahli Hadits, kecuali Nasa'i)
'peganglah dengan gigi taringmu adalah peganglah sunnah Rasulullah SAW.'

2. 'Aisyah ra. menuturkan, Muhammad Rasulullah SAW. bersabda, "Barangsiapa mengamalkan sesuatu dalam agama ini yang tidak ada asal-usulnya dari agama ini maka tertolaklah". (HR. Bukhari dan Muslim)
'tertolak disini adalah tidak diterima oleh Allah SWT.'

3. Rasulullah SAW. bersabda, "Barangsiapa mengamalkan sesuatu (ibadah) yang tidak ada perintahnya dari kami maka tertolaklah". (HR. Muslim)

4. Hudzaifah ra. memberitahukan, Rasulullah SAW. bersabda, "Allah tidak akan menerima puasa ahli bid'ah, juga tidak menerima sholatnya, hajinya, umrohnya, dan jihadnya. Ia keluar dari Islam laksana seutas rambut yang keluar dari tepung". (HR. Ibnu Majah)

Masih adakah alasan untuk menjalankan hal-hal yang bid'ah?
Saya jadi teringat lagi akan firman Allah dalam:
QS 6:116 yaitu Larangan mengikuti kebanyakan orang.
Keterangan: Kebanyakan orang-orang (yang mana sekarang kebanyakan orang-orang yang menyalahkan sunnah Rasulullah SAW. daripada yang menjaga)".

QS 31:21 yaitu Larangan mengikuti tradisi nenek moyang juga adat istiadat.
Keterangan: Keturunan/ajaran nenek moyang yang tidak berasal dari kami (Rasulullah dan para Khulafaur Rosyidin)

QS 17:36 yaitu Larangan bertaqliq buta dalam agama.
Keterangan: Lebih mengagungkan seseorang yang dianggap sangat hebat sehingga segala perkataannya kita terima bahkan mentah-mentah tanpa mengetahui landasan dalil Al-Quran atau As-Sunnah (Hadits) yang ada (benar).


Masalah tidak tidur beberapa hari ataupun tidak keluar kamar adalah hal yang menzalimi diri sendiri. mari kita bahas lagi:

Dibawah ini adalah hadits mengenai:
Anjuran beribadah sesuai kemampuan, Tidak menzalimi diri sendiri, dan larangan beribadah secara terus-menerus (berlebihan).

Aisyah ra. memberitahukan, bahwa apabila Rasulullah SAW. memerintahkan mereka mengerjakan amal ibadah, maka beliau menyuruh yang sesuai dengan kemampuan mereka. Lalu mereka mengatakan, "Ya Rasulullah, sesungguhnya kami tidak seperti engkau. Sebab sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang kemudian". Seketika wajah Rasulullah SAW. memerah menandakan beliau marah, dan bersabda, "Sungguh orang yang yang paling bertaqwa dan yang paling mengetahui tentang Allah diantara kalian adalah aku". (HR. Bukhari)

Aisyah ra. menuturkan, bahwa Rasulullah SAW. datang untuk menggilirnya (hari dimana Rasulullah harus bersama Aisyah). Pada saat itu Aisyah sedang bersama seorang wanita.
"Siapakah wanita ini?" Tanya Rasulullah SAW.
"Ya Rasulullah, dia adalah penduduk Madinah yang paling banyak ibadahnya. Dia tidak pernah tidur malam," Ungkap Aisyah.
Rasulullah SAW. bersabda, "Kerjakanlah ibadah menurut kemampuan kalian. Demi Allah, Dia tidak akan bosan sehingga kalian sendirilah yang bosan. Amal ibadah yang paling disukai oleh Allah SWT adalah yang dikerjakan secara terus-menerus". (HR. Lima Ahli Hadits kecuali Tirmidzi)

Anas ra. Menceritakan, Rasulullah SAW. bersabda, "Ingatlah, demi Allah, sungguh aku orang yang paling takut dan paling taqwa kepada Allah SWT. Tetapi aku berpuasa dan berbuka, sholat dan tidur, serta menikah dengan wanita. Barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku". (HR. Syaikhon dan Nasa'i)

Abdullah ibnu 'Amr ra. mengungkapkan bahwa Rasulullah SAW. berkata kepadanya, "Aku telah mendengar berita bahwa engkau senantiasa sholat sepanjang malam, dan selalu berpuasa di siang harinya."
"Ya aku mengerjakan hal tersebut," jawab 'Abdullah ibnu 'Amr.
lalu Rasulullah SAW. bersabda, "Sungguh jika engkau mengerjakan hal itu niscaya matamu mengantuk dan tubuhmu lemah. Sungguh engkau berkewajiban memenuhi hak tubuhmu dan keluargamu, karena itu berpuasalah dan berbukalah, sholatlah dan tidurlah". (HR. Syaikhon)

Aisyah ra. berkata bahwa ia pernah ditanya, "Apakah Rasulullah SAW. mengkhususkan hari-hari tertentu untuk memperbanyak ibadahnya?"
"Tidak" tegas 'Aisyah. "Amal ibadahnya dikerjakan secara terus-menerus. Bahkan seseorang diantara kalian pasti mampu mengerjakan ibadah yang biasa dikerjakan oleh Rasulullah SAW." (HR. Tiga Ahli Hadits)

Aisyah mengemukakan, Rasulullah SAW. pernah ditanya (oleh seseorang), "Amal apakah yang paling disukai oleh Allah?"
"Yang terus-menerus dilakukan sekalipun sedikit." Jawab Rasulullah SAW. (HR. Syaikhon dan Tirmidzi)


Sudah jelaskah dengan pernyataan hadits-hadits diatas?
Apakah benar jika kita melakukan sesuatu yang Bid'ah disertakan menzalimi diri sendiri? Maaf tidak ada bermaksud menyinggung pihak lain, tapi saya sungguh menentang perbuatan yang seperti ini. Banyak umat Islam mengambil sebuah hadits yang terputus untuk membenarkan pendapat mereka tentang apa yang mereka kerjakan, seperti hadits dibawah ini contohnya:

"Barang siapa yang mengada-adakan urusan baru yang baik, maka baik pula pahala untuknya. Tapi barangsiapa yang mengada-adakan urusan baru yang buruk, maka buruk pula untuknya."
Hadits tersebut banyak dipakai untuk orang-orang yang menjalankan berbagai macam bid'ah, tetapi "Mengada-adakan urusan baru" yang dimaksud diatas adalah "PERKEMBANGAN ZAMAN & TEKNOLOGI" bukan perkembangan ibadah. Terlalu banyak orang-orang yang merasa ilmu agamanya sudah sangat tinggi sehingga membuat-buat ajaran baru. Naudzubillah.

Islam pedoman utamanya adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah, jadi ibadah yang kita lakukan ya harus sesuai dengan pedoman itu. Bila kita membuat ajaran baru berarti kita bukanlah menjadi sosok seorang Muslim lagi, karena tidak ada bedanya dengan kita membuat kitab suci baru yang isinya tentang perkembangan ibadah. Hati-hati karena banyak sekali manusia yang merusak sunnah, contohnya banyak sekali.

Abu Hurairah ra. Menyampaikan, Rasulullah SAW. bersabda: "Islam pada mulanya asing, dan akan kembali asing seperti semula. Maka bahagialah kiranya (orang Islam) yang terasing."
"Siapakah orang yang terasing itu?" tanya sahabat.
Beliau (Rasulullah SAW.) menjawab, "Orang-orang yang memperbaiki sesuatu yang telah dirusak oleh orang dari sunnahku. Dan orang-orang yang menghidupkan kembali sunnahku yang telah dirusak oleh orang lain." (HR. Muslim, dan dinilai hadits Hasan oleh Tirmidzi)

Kita memang wajib menuruti kata orang tua (yang mungkin juga orang tua kita menuruti budaya nenek moyang atau adat istiadat kampung), tetapi patuhlah kepada orang tua hanya dalam hal-hal yang ma'ruf, kalau mengarah kepada hal-hal yang munkar ya jangan. Karena ketaatan kita yang paling utama hanyalah kepada Allah subhana wata'alaa. Semoga tulisan ini bisa membantu saudariku ecides.

Wassalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuhu ya ahlal sunnah wal jama'ah.

http://akucintaislam.indonesianforum.net

5 Re: Tirakat dalam Islam on Thu Apr 21, 2011 1:17 am

ecides


Great. penjelasannya lengkap sekali. Puas dengan jawabannya. Syukron Hehe

6 Re: Tirakat dalam Islam on Thu Apr 21, 2011 9:09 am

Hipotesa


Administrator Website
Administrator Website
ecides wrote:Great. penjelasannya lengkap sekali. Puas dengan jawabannya. Syukron Hehe

Afwan ya Ukhti..
Oh iya, sedikit tambahan, kalo mau mendekatkan diri kepada Allah bisa dilakukan dengan cara-cara yg pernah diajarkan Rasulullah.. Contoh kecilnya Ber-I'tikaf di 10 hari terakhir puasa Ramadhan, juga bertahajud disaat kebanyakan orang tertidur lelap, dibeberapa riwayat dijelaskan bahwa Allah mejamah kita disaat kita bertahajud..

Amr. bin 'Utbah mengatakan, Rasulullah saw. bersabda: "Saat dimana Tuhan paling dekat dengan hamba-Nya adalah pada tengah malam yang terakhir, jika kamu sanggup untuk bangun guna mengingat Allah, hendaklah engkau lakukan." (HR. Tirmidzi)

http://akucintaislam.indonesianforum.net

7 mencari guru jangan di internet on Thu Mar 15, 2012 2:49 am

din hikmah


ya ukhti..ana cmn nyaranin..
coba deh cari mursyid (guru) didunia nyata, jangan bertanya di internet..
apa ukhti yakin kalo jawaban diatas tidak hasil copy paste dari internet.??
jawaban diatas banyak sekali ditemuin di internet..dan menurut ana lbh baik jika ingin bertanya ya bertanya pada ulama secara langsung, biar mencari jawaban dengan membuka kitab-kitab nya secara langsung..

istilahnya..ibadah hrs dengan ilmu secara langsung, bukan mencari ilmu ndengan sanad yg tdk jelas..

syukron..

8 Re: Tirakat dalam Islam Today at 1:06 pm

Sponsored content


Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik