AKU CINTA ISLAM
AKU CINTA ISLAM

Sebuah Kebenaran dan bagaimana cara kita menyikapi hidup yang sebenarnya.


You are not connected. Please login or register

Pendahuluan ARTIKEL TUTUNTUNAN SALAT

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

1 Pendahuluan ARTIKEL TUTUNTUNAN SALAT on Tue Apr 19, 2011 9:10 pm

Hipotesa


Administrator Website
Administrator Website
PENDAHULUAN

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh(u)
”Semoga keselamatan/kesejahteraan/kebahagiaan pada kalian, berserta rahmat Allah dan berkat-Nya pula atasmu”.

“Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Allah, tuhan semesta alam. Yang maha pengasih lagi maha penyayang. Yang menguasai hari pembalasan. Hanya Engkau(Allah) lah yang kami sembah dan hanya kepada-Engkau pula kami meminta pertolongan. Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (yaitu) Jalan orang-orang yang (beriman/benar) yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”
(Al-Fatihah 1:1-7)

Ya Allah Ya Dzal Jalaali Wal Ikroom (Wahai Allah Wahai Dzat yang Maha Kaya lagi Maha Sempurna), jadikanlah aku manusia yang mendapatkan petunjuk juga memberikan petunjuk, yang tidak sesat dan tidak pula menyesatkan, Aamiin Ya Allah Ya Arhamarrahimin (Perkenankanlah Wahai Allah Wahai Tuhan yang Maha Pemurah).

Siapa yang telah diberikan petunjuk oleh Allah Subhanahu wata'ala maka dengan izin-Nya tidak akan ada sesuatu hal pun yang bisa menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah Subhanahu wata'ala maka dengan seizin-Nya pula tidak akan ada yang bisa memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan Rasul-Nya.
Tujuan saya membuat artikel ini, semata-mata hanya ingin menyempurnakan salat saya pribadi juga ingin menyempurnakan salat-salat yang dilakukan oleh keluarga besar saya. Namun tiada salahnya bila ada pun orang yang membutuhkan untuk memiliki artikel ini. Artikel ini saya sebarkan GRATIS tanpa ada pungutan biaya, namun bila ada yang mencoba menjual Artikel ini, itu diluar batas kemampuan saya, dan biarlah Allah yang menilai niat mereka (yang menjualnya) baik atau buruk.

Saya seorang hamba Allah yang menganut mazhab Syafi'i, yang mana saya mengagumi beliau (bukan mengagungi), dan yang mana pula yang kita ketahui bahwa terdapat Empat Mazhab (Imam) besar yaitu; Hanafi, Hanbali, Maliki, dan Syafi'i. Mengapa saya memilih Al-Imam Syafi'i? Karena sungguh saya melihat diantara ke-Empat Mazhab ini, As-Syafi'i adalah Imam yang dikenal sebagai yang paling sopan dan santun, serta semua yang dia ajarkan/sarankan (meskipun benar-benar ketat) namun beliau benar-benar ingin menjaga kelakuan dan norma kita sebagai sebaik-baiknya umat.

Ada yang pernah bertanya:
“..Islam kok pakai Mahdzab si Anu, si Itu, dan si Ini? Kan yang bener yang mengikuti Al-Qur'an & Hadits?”

Jawaban:
Sebelum menjawab pertanyaan Itu, bagaimana bila kita ajukan pertanyaan juga:
“Apakah dengan mengikuti suatu madzhab berarti tidak mengikuti Qur'an dan hadits?”
Silahkan diperiksa secara teliti (bila anda paham), hasil ijtihad mana (dalam suatu madzhab) yang tidak kembali kepada Qur'an dan hadits, kecuali bila Qur'an dan Hadis itu tidak mengaturnya. Jika demikian, pertanyaan tambahannya;
“Apakah suatu hasil ijtihad diantara mereka yang tidak kembali ke Qur'an dan hadits (karena tidak terdapat landasannya dalam al-Qur'an dan Hadits), bisa dianggap berlawanan dengan keduanya?”

Memang sumber hukum yang utama adalah Al-Quran, nomor dua hadis, namun cara berfikir masing-masing mujtahid itu kan berbeda-beda.
Jangan kan jauh-jauh, dari satu ustad/kyai ke ustad/kyai lain saja kita bisa mendapatkan pengkajian yang berbeda.
Maka dari itu haruslah kita cerna, justru kebanyakan yang saya terima dari berbagai ustad itu saling menyalahkan, ini salah, itu salah, bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa beliau (ustad) tersebutlah yang salah.

Contoh: salah satu yang membatalkan wudhu' adalah bersentuhan dengan perempuan (selain mahram/muhrim) berdasar ayat 6 Surat al-Maidah.
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Maidah 5:6)
Ayat yang dibahas adalah satu ayat ini, tapi kenyataan pendapat mereka berlaian.
Contoh :

Hanafiyah
berpendapat bahwa yang dimaksud dengan "al-lams" (bersentuhan) dalam ayat tersebut adalah bersetubuh. Sehingga wudhu' hanya akan batal karena melakukan setubuh (Arab = jimaa'), dan tidak batal dengan sekedar bersentuhan kulit baik ada syahwat saat bersentuhan atau tidak.

Malikiyah
mengatakan wudhu' tidak batal bila tidak ada syahwat saat bersentuhan, dan batal jika disertai dengan syahwat. Karenanya, walaupun yang disentuh itu anak ingusan, bila ada syahwat, tetap batal.

Hanbaliyah
hanya perempuan yang wajarnya menimbulkan syahwat saja yang membatalkan. Demikian, karena kedua madzhab (Malikiyah dan Hanbaliyah) ini melandaskan pendapatnya disamping pada ayat di atas juga pada beberapa hadits yang menyiratkan tidak batalnya wudhu' hanya sekedar dengan bersentuhan biasa (tanpa syahwat).

Syafi'iyah
tambah ketat lagi, baik ada syahwat ataupun tidak, jika yang disentuh itu perempuan yang sudah baligh maka membatalkan wudhu'. Argumennya, yang dimaksud dengan "al-lams" dalam ayat 6 surat al-Maidah itu adalah bersentuhan secara hakiki, antara dua kulit yang berlainan jenis, laki-laki dan perempuan yang sama-sama dewasa.

Itu satu contoh kecil. Dan perbedaan-perbedaan yang lain pun terjadi karena demikian itu: metodologi istinbath (pengambilan dalil) yang berlainan.

Lalu bagaimana sikap kita?
Kita, selama belum mampu berijtihad sendiri ya mengikuti saja yang sudah ada, yang cocok dan mantap untuk kita laksanakan.

Dan jika Qur'an dan Hadis itu belum mengatur, atau sudah mengatur tapi sifatnya temporer, maka kita diharuskan berijtihad menggunakan akal kita. Yang terpenting adalah kita selalu mengupayakan kemaslahatan umat manusia.
Intinya mereka ke-Empat Mazhab bukanlah ada yang satu sesat dan satu benar, melainkan mereka tetap menjalankan islam sesuai dengan aqidah dan syariah pada letak yang seharusnya. Contoh kecil, begitu banyaknya salat yang dilakukan para sahabat yang cukup berbeda dari segi bacaan yang dibacakan dengan yang dicontohkan oleh rasulullah, dan rasulullah membenarkannya, selama itu tidak menyalahkan aqidah Al-Qur'an dan As-Sunnah tadi. Jangan pernah “Su'udzon” bila kita melihat cara orang lain melakukan shalat sedikit berbeda dengan kita, karena mungkin mereka berbeda mazhab, dan intinya islam tidak pernah mengajarkan “Su'udzon” (berfikir yang buruk-buruk) melainkan islam selalu mengajarkan kita “Huznudzon” (berfikir yang baik-baik). Mudah-mudahan artikel ini membantu menjawab pertanyaan kita tentang salat, serta kita mengetahui dengan sebenar-benarnya yang manakah penyimpangan, dan yang mana pula perbedaan menjalankan tetapi tidak menyimpang dari aqidah.

Allah Tabaroka wata'ala berfirman: "Jika kalian saling berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya" yakni kembali ke Kitabullah dan sunnah Rasulullah.

Dan mereka (Hanafi, Syafi'i, Maliki, Hambali) adalah para Imam yang patut dipanut karena mereka adalah kumpulan orang-orang yang mengerti. Jika tidak, maka mereka tidak akan menjadi Imam Mazhab.

Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman dalam surat At Taubah :

فإن تابوا وأقاموا الصلاة وآتوا الزكاة فإخوانكم في الدين
"Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara saudaramu seagama.” ( QS. At Taubah, 11 ).

Dan dalam surat Maryam, Allah Subhanahu wata'ala berfirman :

فخلف من بعدهم خلف أضاعوا الصلاة واتبعوا الشهوات فسوف يلقون غيا إلا من تاب وآمن وعمل صالحا فأولئك يدخلون الجنة ولا يظلمون شيئا
"Lalu datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak akan dirugikan sedikitpun.” (QS. Maryam, 59-60 )“

Diriwayatkan dari Jabir bin Abdillah radhiallahu‘anhu, bahwa Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إن بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة
“Sesungguhnya (batas pemisah) antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim, dalam kitab al-iman )

http://akucintaislam.indonesianforum.net

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik